ISPU Capai 190, Udara Muarojambi Tidak Sehat
udara: Kualitas udara di Muarojambi saat ini masuk dalam kategori tidak sehat.-JUNAIDI/JAMBI INDEPENDENT-
JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Kualitas udara di Kabupaten Muarojambi mulai memburuk di tengah meningkatnya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Muarojambi, Indeks Standar Pencemar udara (ISPU) untuk parameter PM2,5 tercatat mencapai 190 pada Senin (10/8).
Angka tersebut menempatkan kualitas udara di Muarojambi dalam kategori tidak sehat.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Muarojambi, Andi, mengatakan konsentrasi PM2,5 saat ini mencapai 111 mikrogram per meter kubik.
BACA JUGA:Karhutla Jambi Mencapai 300 Hektare, Belum Termasuk Karhutla Muarojambi
"Kalau nilai ISPU sudah 190, itu masuk kategori tidak sehat. Artinya, kualitas udara sudah mulai memberikan dampak terhadap kesehatan dan perlu menjadi perhatian," kata Andi, Senin siang.
Menurut Andi, DLH terus melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala untuk mengetahui perkembangan pencemaran, terutama di tengah meningkatnya aktivitas karhutla.
"Pemantauan terus kami lakukan secara berkala, terutama karena kasus karhutla mulai meningkat. Kami perlu melihat bagaimana perkembangan kualitas udara dan dampaknya terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat," ujarnya.
Andi menjelaskan, ISPU merupakan indikator yang menggambarkan tingkat kualitas udara berdasarkan konsentrasi zat pencemar.
BACA JUGA:Rugikan Negara Rp 894 Juta, Mantan Kades Muaro Emat Kerinci Dituntut 3 Tahun 6 Bulan Penjara
Dalam klasifikasinya, nilai ISPU 0–50 masuk kategori baik, 51–100 kategori sedang, 101–200 kategori tidak sehat, 201–300 kategori sangat tidak sehat, sedangkan nilai di atas 300 masuk kategori berbahaya.
Dengan nilai ISPU mencapai 190, kualitas udara Muarojambi berada mendekati batas atas kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sumber pencemar, khususnya asap karhutla, masih terjadi di sejumlah wilayah.
"Untuk kategori tidak sehat, masyarakat perlu mewaspadai kondisi udara. Karena itu, pemantauan menjadi penting agar perkembangan kualitas udara bisa diketahui dan langkah antisipasi dapat dilakukan," kata Andi.
BACA JUGA:Musim Kemarau Ancam Produksi Hortikultura, Petani Tanjab Timur Tetap Optimistis Panen
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Muarojambi mengingatkan masyarakat, agar tidak menganggap remeh paparan asap dan partikulat halus.
Kepala Dinas Kesehatan Muarojambi, Aang Hambali, mengatakan kualitas udara yang memburuk dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
"Kondisi seperti ini dapat meningkatkan rasa iritasi pada saluran pernapasan, batuk, atau gangguan kesehatan lainnya, terutama bagi kelompok rentan," kata Aang Hambali, Senin (10/8) siang.
Menurutnya, kelompok yang paling berisiko terdampak adalah anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit jantung maupun gangguan paru-paru.
BACA JUGA:Kemarau, 1.463 Hotspot Mengintai Jambi: SEKBER PSDH Ingatkan Jangan Tunggu Api Membesar
Karena itu, Aang meminta kelompok rentan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat.
"Batasi kegiatan di luar ruangan, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit jantung atau paru-paru. Kalau tidak ada keperluan penting, sebaiknya hindari aktivitas di luar rumah," ujarnya.
Tidak hanya membatasi aktivitas, masyarakat yang harus tetap keluar rumah juga diminta menggunakan masker yang mampu menyaring partikulat halus.
"Jika terpaksa keluar rumah, pakailah masker pelindung seperti N95 atau KF94. Ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi paparan partikulat halus ke saluran pernapasan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


