bank jambi terbaru

Sakit Perut disertai BAB Encer, Berikut Cara Mengatasinya

Sakit Perut disertai BAB Encer, Berikut Cara Mengatasinya

Sakit Perut disertai BAB Encer-ist/jambi-independent.co.id-

BACA JUGA: PPP Bidik Kursi Ketua DPRD dan Bupati Muaro Jambi, Kamaludin Havis: Kader Harus Naik Kelas

Sejumlah obat diare tersedia, di antaranya attapulgite yang mengikat kuman atau racun agar tidak mengiritasi dinding usus, serta loperamide yang memperlambat gerakan usus sehingga tinja lebih padat dan frekuensi BAB berkurang. Obat antidiare sebaiknya dikonsultasikan dahulu dengan apoteker atau dokter. Obat ini tidak boleh digunakan bila ada demam atau darah dalam tinja, tidak boleh dipakai jangka panjang, dan tidak diberikan kepada anak-anak.

Antibiotik hanya digunakan untuk diare akibat infeksi, misalnya diare disertai demam, tinja berdarah, atau sel darah putih pada tinja, dan hanya sesuai petunjuk dokter. Probiotik seperti Lactobacillus, Bifidobacteria, atau Saccharomyces boulardii disebut dapat membantu dengan bersaing melawan mikroba berbahaya di usus.

6. Menjaga kebersihan.

Cuci tangan dengan sabun setelah dari toilet dan sebelum makan. Makanan disimpan dan diolah dengan higienis, dapur dan toilet dijaga kebersihannya, dan sumber air yang digunakan bersih. Makanan sisa yang sudah dingin sebaiknya tidak dimakan. Penderita juga dianjurkan tidak menyiapkan makanan untuk orang lain selama diare.

BACA JUGA:Zodiak Virgo dan Taurus, Pasangan Praktis yang Membangun Stabilitas dalam Hubungan

7. Mengenali tanda dehidrasi dan tanda bahaya.

Tanda dehidrasi meliputi pusing, kulit kering, buang air kecil berkurang, mulut kering, mata cekung, dan lemas. Pada bayi dan anak, tidak ada popok basah selama tiga jam atau lebih menjadi tanda bahaya. Bila tanda tersebut muncul, penderita perlu segera dibawa ke dokter atau puskesmas terdekat.

Pemeriksaan ke dokter juga dianjurkan pada kondisi berikut. Pada anak, demam tinggi sekitar 38,9 derajat Celsius atau lebih, tinja berdarah atau hitam, diare lebih dari 24 jam, atau anak tampak lesu dan tidak responsif memerlukan penanganan segera. Pada dewasa, diare yang tidak membaik dalam dua hari, tinja berdarah atau hitam, demam tinggi, nyeri perut atau anus, serta tanda dehidrasi perlu diperiksakan. Diare yang berlangsung berminggu-minggu juga perlu dinilai oleh dokter.

Pada kondisi tertentu penyebab diare bukan infeksi, misalnya intoleransi laktosa. Bila gejala berupa BAB encer dan perut tidak nyaman bertahan lebih dari beberapa minggu setelah mengonsumsi produk susu, pemeriksaan oleh dokter dianjurkan.

BACA JUGA:Air Terjun Pancuran Rayo Kerinci, Pesona Air Terjun Tinggi di Tengah Alam yang Masih Asri

Selama diare, penderita sebaiknya menghindari rumah sakit, panti jompo, dan kolam renang agar tidak menularkan penyakit ke orang lain. Kebersihan tangan, penanganan makanan yang aman, dan tidak menyiapkan makanan untuk orang lain termasuk langkah pencegahan penularan, terutama bila diare disebabkan oleh infeksi.

Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan cairan lebih banyak daripada yang masuk. Pada diare, cairan dan elektrolit hilang bersama tinja encer, sehingga penggantian cairan harus dilakukan sejak awal dan terus-menerus. Anak kecil dan lansia lebih rentan karena cadangan cairan tubuhnya lebih sedikit, sehingga pemantauan jumlah buang air kecil dan kondisi mulut menjadi penting.

Informasi ini bersifat umum dan tidak menggantikan pemeriksaan medis. Penentuan obat, termasuk antibiotik dan obat antidiare, serta dosisnya harus berdasarkan saran dokter atau apoteker sesuai usia dan kondisi penderita. Ibu hamil, lansia, balita, dan penderita penyakit kronis sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila mengalami diare.*

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait