JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - "Bapak-bapak ibu-ibu, mari lihat telurnya Pak Catur, bubuk telur," kata seorang ibu, setengah berteriak, di tengah kerumunan pengunjung bazar, Sabtu 15 Agustus 2026 kemarin.
Bazar tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan 17 Agustusan satu komplek perumahan di Kelurahan Pondok Ranji, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Mendengar teriakan agak "saru" itu, banyak pengunjung menahan senyum. Tapi Pak Caturnya sendiri malah melucu. "Telur Pak Catur berminyak," ujarnya. Kali ini pengunjung tak bisa menahan senyum.
Yang dimaksud Pak Catur adalah Dharmawan Catur. Dia peternak ayam telur asal Solo. Juga pemilik UMKM yang berhasil "menyulap" telur menjadi bubuk telur.
Di stand bazar miliknya, dia mendemonstrasikan menggoreng telur dadar dari bubuk telur produksinya.
"Negara yang kuat itu negara yang ketahanan pangannya kuat. Inovasi telur menjadi bubuk telur merupakan salah satu upaya nyata agar ketahanan pangan negara kita kuat," katanya, berpromosi, sebelum menggunting saset berisi bubuk telur untuk digoreng.
Beroperasi sejak Januari 2026 lalu, produksi UMKM Catur kini rata-rata 100 kg bubuk telur perhari. Untuk sementara ini pemasarannya masih sebatas sistem PO (puchase order --B2B).
Bubuk telur UMKM Catur dibuat dari telur segar. Diproduksi melalui serangkaian proses. Seperti pasteurisasi (pemanasan untuk membunuh bakteri), desugarisasi (pengurangan kadar glukosa untuk mencegah reaksi pencoklatan) dan pengeringan dengan mesin khusus (untuk menghilangkan kadar air).
Seterusnya dikasih sedikit garam dan penyedap rasa sebelum dikemas. "Jadi bubuk telur kami ini tanpa pengawet. Bisa tahan delapan bulan," kata pria 55 tahun yang juga panitia bazar tersebut.
Dengan menjadi bubuk telur, kini telur bisa dinikmati dengan lebih mudah. Masa simpannya jauh lebih panjang, dan mudah membawanya. Juga mudah penyimpanannya --tak perlu pendinginan khusus.
Sementara bagi peternak ayam, hilirisasi telur menjadi bubuk telur bisa meningkatkan nilai ekonomis produksi peternakan. Juga menyelamatkan hasil panen saat harga telur di pasar anjlok.*
*Tulisan oleh: Ali Fauzi