Oleh
dr. Fadhil Akbar Rachman, M.K.M
JAMBI,JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Kanker serviks atau kanker leher rahim masih menjadi salah satu ancaman kesehatan perempuan. Kabar baiknya, penyakit ini termasuk kanker yang sebagian besar dapat dicegah. Vaksinasi HPV dan pemeriksaan rutin menjadi dua langkah penting untuk melindungi perempuan dari penyakit ini.
Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh pada leher rahim, yaitu bagian paling bawah dari rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Penyakit ini biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Sebagian besar kanker serviks berawal dari infeksi virus yang berlangsung lama dan menyebabkan perubahan pada sel-sel leher rahim.
Virus tersebut adalah Human Papillomavirus (HPV). Disampaikan dr. Fadhil Akbar Rachman, M.K.M bahwa HPV sebenarnya sangat umum dan sebagian besar infeksi dapat hilang dengan sendirinya karena sistem kekebalan tubuh. Masalah muncul ketika jenis infeksi HPV berisiko tinggi menetap dalam tubuh selama bertahun-tahun. Infeksi yang menetap inilah yang dapat menyebabkan perubahan sel, berkembang menjadi lesi prakanker, dan pada sebagian kasus akhirnya menjadi kanker. Hampir seluruh kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV berisiko tinggi.
“Beberapa keadaan dapat meningkatkan risiko infeksi HPV menetap dan berkembang menjadi kanker. Di antaranya adalah merokok, daya tahan tubuh yang lemah, infeksi menular seksual tertentu, serta faktor yang berkaitan dengan aktivitas seksual. Namun, penting dipahami bahwa seseorang tidak harus memiliki semua faktor tersebut untuk terkena kanker serviks,”ujarnya.
BACA JUGA:Klinik Eunoia Hadirkan Inovasi Perawatan Kecantikan Alami dan Peluncuran New Treatment 2026
Sering kali tidak bergejala.
Salah satu persoalan terbesar kanker serviks adalah gejalanya sering tidak terasa pada tahap awal. Karena itu, perempuan yang merasa sehat bukan berarti pasti bebas dari perubahan pada leher rahim.
Ketika penyakit mulai berkembang, beberapa tanda yang perlu diperhatikan adalah perdarahan dari vagina yang tidak biasa, misalnya perdarahan setelah berhubungan seksual, di luar masa menstruasi, atau setelah menopause. Keputihan yang berubah, terutama jika jumlahnya bertambah atau berbau tidak biasa, juga perlu diperiksa.
Gejala lain dapat berupa nyeri saat berhubungan seksual, nyeri di panggul atau punggung bagian bawah, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, mudah lelah, hingga pembengkakan pada tungkai. Gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti kanker serviks karena dapat disebabkan oleh penyakit lain. Namun, jika muncul dan menetap, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan sebaiknya tidak ditunda.
Data terbaru GLOBOCAN 2024 menunjukkan terdapat sekitar 31.116 kasus baru kanker serviks di Indonesia pada 2024. Kanker serviks menjadi kanker terbanyak kedua pada perempuan Indonesia setelah kanker payudara. Pada tahun yang sama, diperkirakan terdapat 15.612 kematian akibat kanker serviks.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kanker serviks bukan persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Bahkan, masalahnya bukan hanya jumlah kasus, tetapi juga keterlambatan menemukan penyakit. WHO dan Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sekitar 70 persen kasus kanker serviks di Indonesia masih ditemukan ketika sudah berada pada stadium lanjut.