JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Pengamat ekonomi perbankan, Noviardi Ferzi, menilai prediksi krisis ekonomi 2026 yang dilontarkan ekonom Ferry Latuhihin sebagai bentuk overstatement yang tidak berpijak pada data empiris terbaru.
Berbicara di Jambi, Sabtu 29 Maret 2026 Noviardi mengatakan, narasi pesimistis yang menyebut potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia anjlok hingga di bawah 3 persen bahkan mendekati nol pada kuartal III tidak sejalan dengan realitas indikator makro saat ini.
Menurutnya, data awal 2026 justru menunjukkan ekonomi nasional berada dalam fase ekspansi yang cukup solid.
Proyeksi pertumbuhan kuartal I berada di kisaran 5,5 hingga 5,7 persen, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat pasca momentum Nataru dan Ramadan-Lebaran.
Hal ini tercermin dari penjualan ritel Januari yang tumbuh 5,7 persen secara tahunan, meningkat dari 3,5 persen pada Desember, dengan lonjakan signifikan pada sektor barang budaya dan rekreasi sebesar 15,9 persen serta makanan dan minuman sebesar 8,1 persen.
Selain itu, sektor industri juga menunjukkan tren positif. Indeks PMI manufaktur terus berada di zona ekspansi, naik dari 51,2 pada Desember 2025 menjadi 52,6 pada Januari dan 53,8 pada Februari 2026—level tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Kondisi ini mencerminkan kuatnya permintaan domestik, peningkatan output produksi, serta optimisme pelaku usaha yang terus membaik.
Noviardi juga mengkritisi narasi “cash is trash” yang dinilai berpotensi menyesatkan persepsi publik.
Menurutnya, dalam kondisi likuiditas domestik yang masih terjaga dan inflasi yang relatif terkendali, tidak ada urgensi bagi masyarakat untuk melakukan pergeseran ekstrem dalam pengelolaan aset.
Di sisi kebijakan, ia menilai pemerintah masih memiliki ruang kendali yang cukup kuat.
Di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, APBN 2026 tetap terjaga dengan strategi fiskal yang adaptif, termasuk penyesuaian belanja seperti efisiensi program Makan Bergizi Gratis tanpa mengganggu daya beli masyarakat.
Defisit pun masih dalam batas aman, sementara subsidi energi tetap menjadi bantalan penting untuk menjaga inflasi di kisaran 3,2 hingga 3,9 persen.
BACA JUGA:Harga Emas Antam Anjlok Rp30.000 Hari Ini! Investor Langsung Bereaksi, Ini Daftar Harga Terbarunya