Dunia Bergejolak, Indonesia Terancam? JK Angkat Suara soal Risiko Kelangkaan BBM

Senin 02-03-2026,15:13 WIB
Reporter : Akmal
Editor : Akmal

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, mengeluarkan peringatan serius terkait potensi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.

Peringatan tersebut muncul seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kian memanas.

Menurut JK, serangan militer yang terjadi di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan.

Situasi geopolitik yang tidak stabil dapat mengganggu jalur distribusi minyak global, terutama dari kawasan Teluk yang selama ini menjadi pemasok utama energi dunia.

BACA JUGA:Anti Lemas & Ngantuk! Ini 7 Cara Tetap Fokus Kerja Saat Puasa Ramadan

 

Ancaman Lonjakan Harga Minyak Dunia Jusuf Kalla menilai, jika serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berlanjut, harga minyak mentah global hampir dipastikan melonjak.

Kenaikan tersebut terjadi akibat terganggunya jalur impor minyak dari Timur Tengah yang banyak melewati wilayah strategis Iran.

Indonesia sebagai negara pengimpor minyak akan merasakan dampak langsung dari kenaikan harga tersebut. Ketergantungan terhadap pasokan dari negara-negara produsen di kawasan Teluk membuat posisi Indonesia cukup rentan.

“Iran bisa saja membalas dengan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara sekitar seperti Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Jika itu terjadi, pasokan minyak dari kawasan tersebut akan terganggu,” ujar JK.

Ia memperkirakan dampak krisis tidak akan terasa dalam satu atau dua hari. Namun, dalam waktu satu minggu, tekanan terhadap pasokan dan harga energi global bisa mulai dirasakan.

BACA JUGA:Ramadan 2026 di Jambi Makin Seru! Ini 5 Tempat Bukber Hits, dari Hotel Bintang hingga Paket Rp25 Ribuan

 

Stok BBM Nasional Dinilai Rentan JK juga menyoroti keterbatasan cadangan BBM nasional yang rata-rata hanya cukup untuk sekitar tiga minggu. Jika konflik berlangsung lebih dari satu bulan, risiko kelangkaan BBM di dalam negeri semakin besar.

Pasokan dari Arab Saudi, Iran, dan Kuwait berpotensi terhenti. Meski masih ada suplai alternatif dari Singapura, kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya aman untuk menjamin stabilitas energi nasional.

Eskalasi konflik semakin tajam setelah serangan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, disusul pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai operasi militer besar-besaran.

Serangan roket yang menghantam Teheran hingga memicu korban jiwa, termasuk konfirmasi tewasnya Ali Khamenei pada 1 Maret 2026, memperparah ketegangan kawasan.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke sejumlah target di Israel serta pangkalan militer di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

BACA JUGA:Tengah Malam Mencekam! 3 Remaja Diamankan Bawa Celurit Saat Patroli KRYD di Danau Teluk

Pemerintah Siapkan Jalur Diplomasi Di tengah situasi genting tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk bertolak ke Iran guna memfasilitasi dialog damai.

Langkah diplomasi ini dinilai penting untuk meredakan ketegangan sekaligus menjaga stabilitas regional. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki posisi strategis dalam mendorong komunikasi antar pihak yang bertikai.

Upaya tersebut diharapkan mampu meminimalisir dampak krisis energi global terhadap perekonomian nasional.

Stabilitas pasokan BBM menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA:Mobil Listrik Ditinggal Lama? Pakar Otomotif Sarankan Jangan Lepas Aki Karena Ini

 

Jusuf Kalla pun meminta pemerintah untuk segera menyiapkan langkah antisipasi, termasuk diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan strategis nasional, guna menghadapi kemungkinan terburuk dari konflik yang terus berkembang.

Kategori :