Jadi Tradisi Masyarakat Indonesia Setiap Tahun, Ini Sejarah Mudik Lebaran Idul Fitri

Kamis 13-04-2023,11:34 WIB
Editor : Surya Elviza

AKARTA, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Masyarakat Indonesia memiliki tradisi setiap lebaran Idul Fitri. Tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak lama dan masih dilaksanakan hingga saat ini.

Tradisi yang dilaksanakan rutin setiap tahun tersebut adalah tradisi mudik lebaran Idul Fitri. Setiap lebaran Idul Fitri, masyarakat Indonesia yang merantau atau berada jauh dari orang tua, pasti akan melaksanakan tradisi mudik untuk bertemu orang tua dan keluarga.

Dengan mudik, maka akan terjalin silahturahmi dak kebersamaan khususnya dengan orang tua dan keluarga tercinta.

Mudik sendiri adalah tradisi perjalanan pulang ke kampung halaman atau ke rumah orang tua pada hari raya Idul Fitri. 

BACA JUGA:BREAKING NEWS: Ratusan Guru Honorer di Tanjab Barat Geruduk Gedung DPRD

BACA JUGA:Pengendara Sepeda Motor Tertabrak Truck di Pijon, Jasa Raharja Bantu Buatkan Rekening Sampaikan Hak Santunan

Lalu, apa sih sejarah mudik? Sehingga menjadi tradisi secara turun temurun setiap tahunnya. 

Untuk diketahui, mudik berasal dari Bahasa Jawa yang merupakan singkatan dari Mulih Dilik, yang artinya pulang sebentar. Sumber lain juga menyebut kata Mudik be.

Mudik di Indonesia sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat selama puluhan tahun dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya Indonesia.

Mari kita lihat sejarah dari tradisi mudik Lebaran di Indonesia.

Sejarah Mudik Lebaran di Indonesia

Sejarah mudik dimulai jauh sebelum zaman Kerajaan Majapahit. Mudik lebih dulu menjadi tradisi para petani Jawa untuk kembali ke kampung tinggalnya.

Para perantau kembali ke kampung halaman untuk membersihkan makam leluhur. Namun, pada pertengahan abad ke-20, mudik menjadi fenomena besar yang melibatkan jutaan orang di seluruh Indonesia.

Pada waktu itu, infrastruktur transportasi di Indonesia masih sangat terbatas. Jalan raya dan jaringan transportasi belum terlalu berkembang.

BACA JUGA:Launching Bazar Minyak Murah, Wagub Sani: Pemprov Berusaha agar Kebutuhan Pokok Tersedia

BACA JUGA:Satlantas Polres Tanjab Timur Pasang Pita Penggaduh di Sejumlah Titik di Ruas Jalan Lintas Jambi-Muarasabak

Sehingga perjalanan mudik masih menggunakan transportasi yang sangat tradisional seperti kereta api, bus, dan kapal laut. 

Karena keterbatasan transportasi, orang sering harus menghabiskan waktu berhari-hari dalam perjalanan untuk sampai ke kampung halaman mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi dan transportasi telah membuat mudik lebih mudah dan lebih nyaman. 

Ada banyak pilihan transportasi yang tersedia, termasuk pesawat terbang, kereta cepat, dan bus ber-AC yang modern. 

Jadi, sekarang orang bisa sampai ke kampung halaman mereka dalam waktu yang jauh lebih singkat dan lebih nyaman.

BACA JUGA:Ditinggal Pergi Pemiliknya, 1 Rumah di Parit Culum I Tanjab Timur Hangus Terbakar

BACA JUGA:Ketua Umum BADKO HMI Jambi Hadiri Pelantikan HMI Cabang Bungo

Namun, meskipun mudik lebih mudah dan lebih nyaman, tetapi tetap ada tantangan dan risiko yang harus dihadapi oleh para pemudik. 

Tantangan termasuk antrean yang panjang di terminal dan stasiun, harga tiket yang mahal, dan kemacetan lalu lintas di jalan raya yang padat. 

Risiko yang mungkin terjadi adalah kecelakaan lalu lintas dan insiden lainnya.

Manfaat Mudik secara Ekonomi

Fenomena mudik menjadi peluang menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di lingkup regional: 

1. Memacu pertumbuhan sektor riil

Meliputi mayoritas aktivitas ekonomi masyarakat, seperti makanan, minuman, pusat oleh-oleh, dan kerajinan.

2. Mempercepat redistribusi ekonomi dari kota besar ke daerah

BACA JUGA:Pemuda di Kuala Jambi Tanjab Timur Nekat Akhiri Hidup dengan Gantung Diri

BACA JUGA:Ini Deretan Minuman untuk Menangkal Dehidrasi saat Puasa

Cash flow yang berlangsung selama mudik akan memiliki multiplier effect untuk menstimulasi aktivitas produktif masyarakat, ditandai dengan tumbuhnya pusat ekonomi baru di daerah, seperti penjualan oleh-oleh di rest area, lokasi wisata, serta sektor riil dan jasa lainnya.

3. Memberi Manfaat Ekonomi di Pedesaan

Menggerakkan semua sektor ekonomi di bidang peternakan, usaha kecil, industri rumahan, perikanan, dan bidang perdagangan.

Seperti diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memproyeksikan, jumlah pemudik sebanyak 123,8 juta orang pada Lebaran 2023. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 85,5 juta orang.

Mudik Lebaran di Indonesia adalah tradisi yang sangat khas dan sangat diidentifikasi dengan Indonesia. 

Sejarah dari tradisi mudik Lebaran di Indonesia mencerminkan keberagaman budaya dan cara hidup di Indonesia, serta tantangan dan risiko yang dihadapi oleh para pemudik. 

Namun, meskipun tantangan dan risiko tersebut, tradisi mudik masih tetap populer dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya Indonesia.*

 

 

 

Artikel ini juga tayang di disway.id

Dengan judul menilik sejarah mudik lebaran di Indonesia ternyata sudah ada sejak jaman majapahit

 

Kategori :