bank jambi terbaru

Sarasehan dan Seni Budaya 2026: Memanusiakan Manusia lewat Tradisi Topeng Labu

Sarasehan dan Seni Budaya 2026: Memanusiakan Manusia lewat Tradisi Topeng Labu

Seni tradisi Topeng Labu-ist/jambi-independent.co.id-

JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Di tengah kepungan kabut asap yang menyelimuti Provinsi Jambi, upaya merawat kebudayaan tidaklah surut.

Melalui Sarasehan dan Seni (Saraseni) Budaya 2026, anak muda, akademisi, pejabat publik, pegiat ekologi, pegiat kebudayaan, berkumpul menyatukan kelestarian budaya, inklusivitas sosial, kesetaraan gender, serta peran strategis perguruan tinggi dalam mengawal arah pemajuan kebudayaan bangsa.

Saraseni Budaya 2026 digelar oleh FKIP Universitas Jambi dan Ficus Nation (Ficus Hijau Nusantara) yang bertempat di Taman Budaya Jambi, Kota Jambi pada Rabu 14 Oktober 2026. Saraseni Budaya 2026 mengusung tema “Pemajuan Budaya Jambi yang Inklusif, Setara, dan Berkelanjutan”.

Selain melibatkan akademisi dan komunitas lokal, kegiatan ini juga didukung oleh Cappa Keadilan Ekologis, World Wide Fund for Nature (WWF), Mitra Aksi, dan Setara Jambi.

BACA JUGA:Warga Keluhkan Pelayanan, Pemkab Tebo Bakal Evaluasi Kinerja Direktur PDAM Tirta Muaro

Pemaknaan kebudayaan di Jambi tampak dari perjalanan seni tradisi Topeng Labu di Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi.

Ketua Perkumpulan Rumah Menapo sekaligus pegiat kebudayaan, Mukhtar Hadi alias Borju, mengungkapkan bahwa Topeng Labu lahir dari respons terhadap stigma dan perlakuan tidak adil di masa lalu.

Berakar dari jejak wabah kusta  yang pernah melanda kawasan Muaro Jambi, para penderita kusta kala itu terpaksa mengasingkan diri di hutan alias "ngutan".

Namun, saat Hari Raya Idulfitri tiba, mereka rindu berbaur dengan keluarga. Agar wajah mereka yang rusak tidak menakuti warga, mereka menutupi wajah menggunakan tempurung buah labu tua yang dihias dengan jelaga.

BACA JUGA:2.500 Mahasiswa UIN STS Jambi Kuliah Umum Bersama Menteri HAM

Uniknya kata dia, tanaman labu tumbuh di ladang masyarakat. Ketika tua dan kering, tempurungnya dijadikan media penutup wajah.

"Saat mereka mengarak diri keliling kampung membawa keranjang (ambung), warga bukannya mengusir, melainkan menyambut hangat dengan berbagi makanan dan minuman. Di situlah lahir nilai pertama: kesetaraan, empati, dan saling berbagi," katanya.

Topeng Labu yang menjadi tradisi arakan, terus dirawat oleh masyarakat lokal, termasuk anak muda laki-laki dan perempuan.

Topeng Labu bahkan berkembang di Rumah Menapo menjadi seni pertunjukan panggung, ruang edukasi anak (Sekolah Alam Raya), hingga penggerak ekonomi desa melalui kuliner dan kerajinan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait