Bukan Sekadar Pintar: Mengapa Pendidikan Harus Kembali Berpijak pada Adab
Yusriwiati Yose – Project Management Unit-ist/jambi-independent.co.id-
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Pendidikan hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Anak-anak tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi yang membuka akses pengetahuan lebih luas daripada generasi sebelumnya.
Namun, muncul pertanyaan mendasar: untuk apa semua pengetahuan dan keterampilan itu jika tidak disertai kemampuan menghargai orang lain, hidup bersama, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat?
Di sinilah kita perlu mengingat satu hal: Pintar saja tidak cukup. Indonesia 2045 membutuhkan generasi yang unggul secara akademik sekaligus memiliki empati, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan kebijaksanaan dalam menggunakan pengetahuan.
Gagasan ini bukan hal baru. Ki Hadjar Dewantara telah menempatkan budi pekerti sebagai bagian penting dari tujuan pendidikan.
BACA JUGA:Aksi Karhutla Berlanjut di Kantor Gubernur Jambi, Massa Menunggu Al Haris
Bagi beliau, pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan menuntun anak agar tumbuh menjadi manusia yang mampu menjalani kehidupan secara utuh dan menjadi anggota masyarakat yang baik.
Pendidikan, dengan demikian, tidak hanya berbicara tentang apa yang diketahui anak, tetapi juga bagaimana pengetahuan itu diwujudkan dalam sikap dan tindakan.
Dalam konteks ini, adab menjadi relevan. Adab bukan hanya tentang berbicara sopan atau menghormati orang yang lebih tua.
Adab juga berarti kemampuan mendengarkan, menghargai perbedaan, bekerja sama, mengendalikan diri, dan bertanggung jawab atas tindakan dengan mempertimbangkan kepentingan bersama. Adab adalah nilai yang hadir dalam kehidupan nyata, bukan sekadar pengetahuan yang dihafalkan.
Dari Keteladanan Menjadi Kebiasaan
Salah satu kekuatan pemikiran Ki Hadjar Dewantara terletak pada pandangannya bahwa pendidikan berlangsung melalui lingkungan, pengalaman, dan keteladanan.
Prinsip Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani menegaskan bahwa pendidik perlu memberi teladan, membangun semangat dan prakarsa, serta memberikan dorongan bagi perkembangan anak.
Prinsip ini mengingatkan kita bahwa pendidik bukan semata-mata penyampai materi, melainkan juga contoh dan pendamping. Anak akan lebih mudah memahami kejujuran ketika melihat orang dewasa bersikap jujur.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:






