Bisa Pantau Beragam Penyakit, Secanggih Apa Huawei Trusense Sekarang?
huawei trusense-ist/jambi-independent-
JAMBI,JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID- Smartwatch kini tidak lagi sekadar menghitung langkah dan detak jantung. Huawei mengungkap perkembangan terbaru sistem sensor kesehatan TruSense dalam pemaparan di Shenzhen, China, pada Kamis 24 September 2026.
Sistem yang pertama kali diperkenalkan secara global pada Agustus 2024 dengan lebih dari 60 indikator ini kini disebut mampu menganalisis lebih dari 70 indikator kesehatan dan kebugaran yang mencakup enam dari delapan sistem utama tubuh manusia.
Huawei menyebut seluruh perangkat baru yang diluncurkan sepanjang 2025 dan 2026 sudah mengadopsi TruSense. Cakupannya kini meluas dari pemantauan kondisi kardiovaskular dan kebugaran ke kondisi tubuh yang lebih beragam, mulai dari tanda vital, kualitas tidur, kesehatan pernapasan, hingga indikator metabolik yang dianalisis dalam satu ekosistem.
Salah satu pengembangan yang mencuri perhatian adalah pemantauan kesehatan paru-paru. Huawei mengembangkan analisis yang menggabungkan suara batuk, variabilitas detak jantung (HRV), dan detak jantung untuk membantu membedakan gejala flu biasa dengan potensi infeksi paru-paru.
BACA JUGA:Daftar Harga iPhone Bekas Mulai Dari Kisaran Rp 4 Juta Sampai Rp 8 Juta
Pemantauan detak jantung saat istirahat juga disebut dapat memberi sinyal perubahan kondisi tubuh sebelum gejala flu muncul.
Di sisi kesehatan metabolik, TruSense mulai mencakup indikator yang berkaitan dengan asam urat. Huawei juga mengembangkan skrining risiko hipertensi yang kini diklaim dapat memberikan hasil dalam sekitar 24 jam, serta evaluasi risiko gula darah tinggi yang menggabungkan data smartwatch dengan perangkat continuous glucose monitor (CGM). Peningkatan sensor dan algoritma disebut membuat waktu evaluasi sejumlah risiko kesehatan menjadi lebih singkat.
Pada pemantauan tidur, TruSense dapat menganalisis fase tidur ringan, dalam, REM, dan kondisi terjaga, sekaligus menilai stabilitas fisiologis selama tidur. Untuk kondisi ekstrem, seperti suhu dingin yang membuat pembuluh darah menyempit dan sinyal denyut melemah,
Huawei menggunakan pemodelan 3D dan rekonstruksi fitur fisiologis agar informasi tersebut tetap dapat ditangkap. Akurasi pemantauan detak jantung dinamis TruSense juga diklaim telah diuji dan disertifikasi oleh lembaga penguji global SGS Swiss.
BACA JUGA:UIN STS Jambi Masuk 10 Besar PTKIN dalam UI GreenMetric 2026
Untuk menjaga akurasi, Huawei mengembangkan algoritma kesehatannya di HUAWEI Health Lab, fasilitas riset wearable terbesarnya di Songshan Lake, Dongguan, China, yang dibangun dengan investasi sekitar 200 juta Yuan atau setara Rp435 miliar di atas lahan seluas 4.680 meter persegi.
Di sana, penguji mengenakan perangkat medis profesional seperti masker metabolik dan sabuk ECG bersamaan dengan smartwatch, lalu data pembanding tersebut dipakai untuk melatih algoritma agar margin kesalahan lebih kecil. Fasilitas ini juga memiliki laboratorium simulasi dataran tinggi untuk menguji kinerja sensor saat oksigen minim.
Huawei menegaskan TruSense tidak dibangun sebagai sistem tertutup. Sistem ini dirancang terbuka untuk terintegrasi dengan platform riset ilmiah, institusi kesehatan, dan aplikasi pihak ketiga. Sebagai contoh, Huawei berpartisipasi dalam I-CARE4CV, konsorsium penelitian penyakit kardiovaskular terbesar di Eropa.
Huawei juga mengembangkan fitur Health Insights atau Wawasan Kesehatan yang menganalisis banyak data sekaligus untuk menemukan perubahan status dan potensi risiko lebih awal, bukan berdasarkan satu angka saja, serta fitur AI follow-up bersama Rumah Sakit 301 di China untuk membantu menjawab pertanyaan tindak lanjut kesehatan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:






