RAM Makin Mahal, Valve Tetap Gas Kembangkan Steam Deck 2
Steam Deck 2--
JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID- Krisis pasokan memori global yang membuat harga RAM melonjak tajam sepanjang 2026 ternyata tidak menyurutkan langkah Valve untuk terus mengembangkan Steam Deck 2, penerus konsol genggam PC yang populer di kalangan gamer. Perusahaan asal Bellevue, Amerika Serikat itu menegaskan bahwa proyek tersebut tetap berjalan sesuai rencana, meski situasi pasar komponen sedang jauh dari ideal.
Lonjakan harga RAM bermula sejak kuartal ketiga 2025, ketika permintaan DRAM melonjak tajam seiring masifnya adopsi teknologi kecerdasan buatan.
Industri memori kini memasuki fase yang disebut DRAM supercycle, di mana kapasitas produksi lebih banyak dialihkan ke segmen pusat data dan AI berupa high bandwidth memory atau HBM, sementara pasokan untuk konsumen umum menjadi jauh lebih terbatas.
Produksi HBM diketahui membutuhkan kapasitas wafer hingga tiga kali lipat untuk setiap bit memori yang dihasilkan dibandingkan DDR5 biasa, sehingga produsen seperti Samsung dan SK hynix harus mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk memenuhi kontrak AI yang jauh lebih menguntungkan.
BACA JUGA:Honda ST125 Dax Bersolek, Astra Honda Motor Rilis Dua Pilihan Warna Baru
Dampaknya terasa signifikan di pasar. Harga kontrak DRAM konvensional tercatat naik sekitar 93 hingga 98 persen secara kuartalan pada tiga bulan pertama 2026, dan pada kuartal ketiga tahun yang sama harga kembali diproyeksikan naik 13 sampai 18 persen dibanding kuartal sebelumnya.
Sejumlah komponen DDR5 16-gigabit bahkan tercatat naik hampir 300 persen antara akhir 2025 dan awal 2026. Di pasar ritel, modul DDR5 32-gigabyte yang sebelumnya dijual sekitar 100 dolar AS kini banyak ditemukan di atas 300 dolar AS. Pada Agustus 2026, indeks harga DDR5 bahkan mencatat rekor baru dengan kenaikan mencapai 486 persen dibanding tahun sebelumnya.
IDC memperkirakan kebutuhan AI akan menyerap sekitar 20 persen dari total produksi DRAM global pada 2026, sementara HBM dan memori server diperkirakan menyerap sekitar 51 persen dari total pasokan bit DRAM sepanjang tahun ini.
Kondisi ini membuat sejumlah produsen perangkat elektronik terpaksa menyesuaikan strategi produk. Beberapa merek mengurangi kapasitas memori pada model entry level, menunda peluncuran produk baru, atau mencari pemasok alternatif seperti produsen asal Tiongkok.
BACA JUGA:Yamaha Rilis Fazzio Sunset Blue Berkonsep Retro Summer, Tampil Makin Modis untuk Anak Muda
Micron bahkan dilaporkan meninggalkan sebagian pasar konsumen untuk fokus ke segmen yang lebih menguntungkan, langkah yang diperkirakan akan memperburuk kelangkaan pada tahun berikutnya.
Harga Hardware Valve Ikut Terdampak
Valve sendiri bukan tanpa dampak dari krisis ini. Pada Mei 2026, perusahaan terpaksa menaikkan harga Steam Deck OLED. Varian 512GB naik dari 549 dolar AS menjadi 789 dolar AS, sementara varian 1TB melonjak dari 649 dolar AS menjadi 949 dolar AS.
Tekanan serupa turut memengaruhi lini produk lain milik Valve yang dirilis pada 2026, yakni Steam Machine yang dibanderol mulai 1.049 dolar AS dan headset VR Steam Frame yang harganya menembus di atas 1.000 dolar AS.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:






