Rahasia di Balik Nastar, Kue Wajib yang Tak Pernah Absen Saat Lebaran
Nastar selalu hadir saat Lebaran di Indonesia. Ternyata, kue ini punya sejarah panjang dan makna simbolis sebagai lambang keberuntungan-jambi-independent-Akmal
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Momen Hari Raya Idul Fitri di Indonesia selalu identik dengan tradisi berkumpul bersama keluarga dan menyajikan berbagai hidangan khas.
Salah satu yang hampir tidak pernah absen dari meja tamu adalah kue nastar.
Pada perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah tahun ini, yang jatuh pada Jumat (20/3/2026) bagi sebagian umat Muslim dan Sabtu (21/3/2026) bagi lainnya, nastar kembali menjadi sajian favorit di banyak rumah.
Kue kering berbentuk kecil dengan isian selai nanas ini bukan sekadar camilan biasa. Nastar memiliki sejarah panjang serta makna simbolis yang membuatnya begitu lekat dengan tradisi Lebaran di Indonesia.
BACA JUGA:Fenomena Langka! Tahun 2030 Umat Muslim Akan Puasa Ramadan Dua Kali
Secara etimologi, nastar berasal dari bahasa Belanda, yakni “ananas” yang berarti nanas dan “taart” yang berarti kue atau tart.
Hal ini menunjukkan bahwa nastar merupakan hasil pengaruh budaya kuliner Belanda pada masa kolonial.
Pada awal kemunculannya, nastar bukanlah makanan yang bisa dinikmati semua kalangan. Bahan-bahan seperti mentega, gula, dan telur tergolong mahal, sehingga kue ini identik dengan kalangan elite.
Namun seiring waktu, masyarakat Indonesia mulai mengadaptasi resep tersebut. Isian kue yang semula menggunakan bahan khas Eropa diganti dengan selai nanas, yang lebih mudah ditemukan di daerah tropis. Selain itu, ukuran nastar dibuat lebih kecil agar praktis disajikan kepada tamu.
BACA JUGA:SUV Rp 210 Jutaan Ini Laris Manis, 100 Ribu Unit Ludes dalam 2,5 Bulan!
Adaptasi tersebut membuat nastar semakin populer dan dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat.
Tak hanya dari sisi sejarah, nastar juga memiliki makna simbolis yang kuat. Dalam budaya Tionghoa, nanas dikenal dengan sebutan “ong lai” yang berarti datangnya keberuntungan atau rezeki.
Selain itu, bahan dasar nastar yang dahulu tergolong mewah menjadikan kue ini sebagai simbol penghormatan kepada tamu yang datang bersilaturahmi saat Lebaran.
Rasa manis serta bentuknya yang kecil dan bulat juga sering dimaknai sebagai simbol kebahagiaan, kehangatan, dan kebersamaan dalam merayakan Hari Raya.
BACA JUGA:Jangan Sampai Salah! Ini Bacaan & Tata Cara Sholat Idul Fitri Lengkap, Banyak yang Masih Keliru
Kini, nastar telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran di Indonesia. Bersama kue kering lainnya seperti kastengel dan putri salju, nastar selalu hadir sebagai sajian khas yang mempererat momen silaturahmi.
Dengan perpaduan sejarah kolonial, adaptasi lokal, dan nilai budaya yang kuat, nastar bukan sekadar kue kering, melainkan juga ikon kuliner yang melekat dalam perayaan Idul Fitri di Tanah Air.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




