Lonjakan Paket Jelang Lebaran Bikin Ekspedisi Kewalahan, Ini Jalan Tengahnya
Lonjakan belanja online selama Ramadan dan menjelang Lebaran membuat volume paket meningkat hingga 30 persen.-jambi-independent.disway.id-Ilustrasi
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Momen Ramadan dan Idulfitri selalu identik dengan meningkatnya aktivitas belanja masyarakat. Tidak hanya kebutuhan pokok, tetapi juga pakaian, hadiah, hingga berbagai kebutuhan lebaran lainnya.
Kemudahan berbelanja melalui platform e-commerce serta berbagai program promosi yang ditawarkan membuat minat belanja masyarakat semakin tinggi. Kondisi ini pun berdampak langsung pada sektor logistik yang harus memproses lonjakan paket dalam jumlah besar.
Peningkatan intensitas belanja tersebut berbanding lurus dengan melonjaknya volume paket yang harus ditangani oleh perusahaan ekspedisi.
Dampaknya, fasilitas distribusi logistik kerap mengalami penumpukan paket yang membuat proses pengiriman menjadi lebih lama dibandingkan hari biasa.
Fenomena ini bahkan menjadi perbincangan warganet di media sosial. Salah satunya terlihat dalam komentar akun Instagram @lolafebrianarahayu yang menggambarkan kondisi ekspedisi saat Ramadan.
“Kadang kalau lihat video paket numpuk sedikit langsung dibilang mandek, padahal lagi musim ramai mau Ramadan. Orang yang checkout online banyak banget. Jadi kalau kelihatan paket banyak ya wajar saja,” tulisnya.
Komentar tersebut memicu diskusi di media sosial mengenai bagaimana perusahaan ekspedisi harus menyeimbangkan antara tuntutan pelanggan yang ingin pengiriman cepat dengan lonjakan volume paket yang sangat tinggi.
BACA JUGA:Update Harga Toyota Fortuner Diesel Bekas 2026 dari Generasi Lama hingga GR Sport
Volume Paket Bisa Naik 30 Persen
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata sekaligus Pengamat Logistik, Djoko Setijowarno, menjelaskan bahwa peningkatan volume paket saat Ramadan dan Idulfitri merupakan fenomena yang wajar.
Menurutnya, meningkatnya aktivitas belanja masyarakat secara otomatis akan meningkatkan jumlah paket yang harus diproses oleh perusahaan logistik.
“Sudah pasti peningkatan volume paket akan terjadi, apalagi di momen besar seperti Ramadan dan Idulfitri. Perusahaan ekspedisi tentu harus memproses seluruh paket tersebut,” ujarnya.
Djoko juga menambahkan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia memiliki potensi lonjakan pesanan yang sangat tinggi selama Ramadan.
Hal senada disampaikan Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Rianto, yang menyebut lonjakan distribusi barang selama Ramadan dapat meningkat hingga sekitar 30 persen dibandingkan periode normal.
“Biasanya kenaikan volume dalam rantai pasok selama Ramadan bisa mencapai sekitar 30 persen,” katanya.
Lonjakan ini terjadi hampir di seluruh rantai distribusi, mulai dari pengiriman antardaerah hingga distribusi barang ke kota-kota besar yang menjadi pusat konsumsi masyarakat.
BACA JUGA:10 Rekomendasi Mobil 9 Seater Terbaik 2026, Kabin Luas Cocok untuk Keluarga Besar
Transaksi E-Commerce Ikut Melonjak
Peningkatan aktivitas logistik juga dipicu oleh meningkatnya transaksi belanja online. Data dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menunjukkan bahwa transaksi di platform e-commerce pada tahun 2025 mengalami kenaikan sekitar 15–20 persen selama Ramadan dibandingkan bulan biasa.
Namun di sisi lain, meningkatnya transaksi online juga memicu ekspektasi tinggi dari konsumen terhadap kecepatan pengiriman barang.
Sebuah studi dari firma konsultan global McKinsey & Company menyebut fenomena tersebut sebagai “Amazon Effect”, yakni kondisi ketika konsumen mengharapkan pengiriman barang yang sangat cepat.
Dalam studi tersebut, sekitar 50 persen konsumen cenderung membatalkan pesanan atau mencari alternatif lain jika waktu pengiriman dianggap terlalu lama.
“Amazon Effect ini juga relevan di Indonesia. Konsumen sudah terbiasa dengan layanan pengiriman instan, sehingga sedikit saja keterlambatan sering membuat perusahaan ekspedisi disalahkan,” jelas Djoko.
Padahal, menurutnya, banyak konsumen tidak mengetahui proses panjang yang terjadi di balik pengiriman sebuah paket.
BACA JUGA:Cek Sebelum Isi Full Tank! Harga BBM Terbaru 13 Maret 2026 di Pertamina, Shell, BP dan Vivo
Proses Pengiriman Tidak Sesederhana yang Dibayangkan
Djoko menjelaskan bahwa pengiriman paket dalam sistem logistik modern memiliki beberapa tahapan penting, mulai dari first mile, sorting di fasilitas distribusi, hingga last mile delivery sebelum sampai ke tangan pembeli.
Selain itu, pesanan yang masuk biasanya terlebih dahulu dikumpulkan hingga memenuhi kapasitas angkut kendaraan sebelum dikirim ke pusat distribusi atau hub logistik.
Mahendra Rianto menjelaskan bahwa sistem ini diterapkan agar kapasitas kendaraan dapat dimanfaatkan secara maksimal serta menekan biaya operasional.
“Order biasanya dikumpulkan sampai menjadi satu muatan penuh truk, lalu dikirim dari hub ke hub besar seperti Semarang atau Bandung,” jelasnya.
Namun ketika volume paket melonjak drastis seperti saat Ramadan, kapasitas hub logistik dan armada pengiriman harus bekerja jauh lebih intensif dari biasanya.
Tantangan Logistik di Negara Kepulauan
Indonesia juga memiliki tantangan tersendiri dalam sistem distribusi logistik karena merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau.
Keterbatasan infrastruktur transportasi, kapasitas angkutan laut dan udara, hingga medan geografis yang beragam di daerah terpencil menjadi tantangan nyata dalam distribusi barang.
“Konektivitas antarprovinsi dan antarpulau masih menjadi tantangan besar dalam distribusi logistik di Indonesia,” kata Djoko.
BACA JUGA:Fasilitasi Pelatihan 59 BCKS, SKK Migas PetroChina Terima Penghargaan dari Kemendikdasmen BGTK Jambi
Teknologi Jadi Solusi
Untuk mengatasi lonjakan paket saat musim ramai seperti Ramadan dan Idulfitri, berbagai perusahaan ekspedisi mulai melakukan transformasi teknologi.
Salah satunya dilakukan oleh perusahaan logistik SPX Express yang mulai mengadopsi berbagai teknologi otomasi, seperti conveyor otomatis, pemindai paket otomatis, hingga sistem pengiriman berbasis data untuk menentukan rute pengantaran paling efisien.
Penerapan teknologi tersebut membantu meningkatkan kapasitas fasilitas logistik sekaligus mempercepat proses sortir dan distribusi paket.
“Transformasi digital di sektor logistik, mulai dari otomatisasi proses, analisis data, hingga sistem pemantauan pengiriman secara real-time, dapat meningkatkan efisiensi layanan sekaligus meminimalisir hambatan saat terjadi lonjakan paket,” tutup Djoko.
Dengan berbagai inovasi tersebut, sektor logistik diharapkan mampu menghadapi lonjakan pengiriman paket selama Ramadan dan Idulfitri tanpa mengorbankan kualitas layanan kepada konsumen.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



