b9

Dari Banyuwangi ke Pasar Lebih Luas, Petani Buah Naga Naik Kelas Berkat Program Klasterku Hidupku BRI

Dari Banyuwangi ke Pasar Lebih Luas, Petani Buah Naga Naik Kelas Berkat Program Klasterku Hidupku BRI

Program Klasterku Hidupku BRI mendorong petani buah naga Banyuwangi naik kelas melalui pendampingan-Jambi-Independent-antaranewsfoto

Banyuwangi, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Banyuwangi sejak lama dikenal sebagai daerah dengan denyut kehidupan pertanian yang kuat.

Didukung lahan subur dan semangat inovasi petani, berbagai komoditas terus dikembangkan untuk meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan.

Dari proses tersebut, lahirlah Kelompok Petani Buah Naga (Panaba) Banyuwangi yang kini mampu naik kelas berkat dukungan Program Klasterku Hidupku BRI.

 

Kelompok Panaba dipimpin oleh Edy, yang sejak awal melihat buah naga sebagai komoditas dengan potensi besar di Banyuwangi. Ia kemudian mengajak para petani lain untuk membudidayakan buah naga secara kolektif.

BACA JUGA:Serbu Sekolah! Ditlantas Polda Jambi Turun Langsung ke 4 SMA-SMK, Kukuhkan Paskibraka hingga Cek Kendaraan

 

“Klaster buah naga ini kami bentuk pada tahun 2016. Saat itu, tanaman buah naga di Banyuwangi mulai banyak, tetapi muncul berbagai masalah, mulai dari serangan penyakit hingga pasar yang over ketika produksi meningkat.

Karena itu, kami membentuk Klaster Petani Buah Naga (Panaba) agar masalah-masalah tersebut bisa diatasi bersama,” ujar Edy.

 

Seiring terbentuknya klaster, para petani memiliki ruang untuk berdiskusi, berbagi pengetahuan, dan menyamakan langkah.

Klaster Panaba menjadi wadah untuk mencari solusi bersama atas persoalan teknis maupun pemasaran yang dihadapi di lapangan.

BACA JUGA:Apel Perdana Wakapolda Jambi Langsung 'Tegas'! Brigjen B. Ali Tekankan Sinergi dan Deteksi Dini Konflik

 

Tak hanya fokus pada budidaya, Klaster Panaba juga berperan penting dalam menjaga stabilitas harga serta melindungi petani dari permainan harga pasar. “Pedagang yang tergabung dalam klaster wajib mengikuti pedoman harga.

Misalnya, jika harga di pasar Rp10.000 per kilogram, mereka membeli dari petani minimal Rp7.000. Pedagang di luar klaster sering memanfaatkan situasi dengan membeli lebih murah. Untuk anggota klaster, kami beri kode dan panduan harga,” jelas Edy.

 

Berkembang Bersama Program Klasterku Hidupku BRI

Perjalanan Klaster Panaba yang kian solid mendorong kebutuhan akan dukungan yang lebih terarah, terutama dari sisi permodalan dan penguatan kapasitas usaha.

Sejak 2017, Klaster Panaba mendapatkan pendampingan melalui Program Klasterku Hidupku yang diinisiasi oleh BRI.

 

“Dengan pendampingan dari BRI, petani jadi lebih berani mengembangkan usaha. Apalagi untuk penggunaan teknologi, itu membutuhkan modal besar. Kalau sendiri, tentu berat,” kata Edy.

BACA JUGA:Harga Emas Antam Melejit Lagi! Naik Rp20 Ribu di Awal Pekan, Tembus Rp2,94 Juta per Gram

 

Pendampingan BRI sejak awal difokuskan pada kebutuhan mendasar dalam budidaya buah naga, salah satunya pemanfaatan lampu untuk mengatur siklus produksi.

Inovasi ini memungkinkan petani tidak bergantung pada musim dan menjaga konsistensi produksi serta kualitas panen.

Teknologi lampu sendiri telah mulai dikembangkan sejak 2013 dan menjadi salah satu kunci peningkatan produktivitas buah naga di Banyuwangi.

 

“Bentuk pemberdayaan dari BRI sangat mendukung kegiatan klaster, mulai dari pelatihan dengan mendatangkan pakar, hingga kemudahan akses pinjaman modal.

Selama petani sudah memiliki tanaman buah naga, proses pinjaman tidak ribet dan tidak memerlukan agunan yang sulit,” ungkapnya.

BACA JUGA:Menteri Nusron Tegaskan Kesinambungan Tanggung Jawab Negara dan Gotong Royong demi Kebangkitan Masyarakat

 

Menurut Edy, rangkaian dukungan tersebut berdampak besar pada kepercayaan diri petani. “Dengan pendampingan dari BRI, petani jadi lebih yakin dan berani mengembangkan usaha. Petani tidak berjalan sendiri,” ujarnya.

 

Dorong UMKM Naik Kelas

 

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa Program Klasterku Hidupku dirancang sebagai pendekatan pemberdayaan untuk mendorong UMKM naik kelas, khususnya pelaku usaha di sektor produksi yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

 

Melalui penguatan klaster, BRI tidak hanya membuka akses permodalan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang mendorong kolaborasi, peningkatan skala produksi, hingga penguatan daya saing di tingkat lokal.

BACA JUGA:Dikukuhkan Jadi Ketua MUI Bidang Penanggulangan Bencana, Menteri Nusron Tekankan Gotong Royong

 

“Dengan pendekatan ini, BRI berharap klaster usaha yang berhasil berkembang dapat menjadi referensi dan role model bagi UMKM di daerah lain. Semoga kisah inspiratif dari Klaster Usaha Panaba di Banyuwangi dapat direplika oleh pelaku usaha di daerah lainnya,” kata Akhmad.

 

Hingga akhir tahun 2025, BRI tercatat telah membina 42.682 klaster usaha, disertai 3.001 kegiatan pemberdayaan yang meliputi pelatihan usaha serta dukungan sarana dan prasarana produksi. Pembinaan difokuskan pada sektor-sektor yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap perekonomian daerah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait