b9

Ledakan di SMA 72 Jadi Peringatan Pentingnya Sekolah Ramah Anak dan Antiradikalisme

Ledakan di SMA 72 Jadi Peringatan Pentingnya Sekolah Ramah Anak dan Antiradikalisme

Dua personil Gegana Brimob Polda Metro Jaya berjaga di tempat terjadinya ledakan di SMAN 72.-Antara/jambi-independent.co.id-

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Direktur Pencegahan BNPT, Irfan Idris, menegaskan pentingnya membentengi dunia pendidikan dari ideologi intoleran, kekerasan, dan perundungan. Peringatan itu disampaikannya dalam acara Sekolah Damai di Bali, Kamis 6 November 2025. 

Sehari berselang, peringatan itu seolah menemukan relevansinya setelah terjadi ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara yang menewaskan dan melukai 96 orang.

Meski penyelidikan Polri belum memastikan motif pelaku, dugaan awal mengarah pada salah satu siswa yang kerap menjadi korban perundungan di sekolah. Kasus ini menyoroti betapa pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis remaja yang rentan terhadap tekanan sosial dan ideologi menyimpang.

BACA JUGA:Ledakan di SMAN 72 Makan Korban Lebih Banyak, Polisi Sebut Total 96 Orang

Dalam psikologi perkembangan, remaja berada dalam fase krisis identitas, mencari jati diri di antara masa kanak-kanak dan dewasa. Tekanan hidup, termasuk perundungan, dapat membuat mereka kehilangan arah dan merasa hidupnya tak bermakna. Ketika rasa putus asa ini tak tertangani, potensi tindakan ekstrem bisa muncul.

Jika benar pelaku ledakan adalah korban perundungan, peristiwa ini menjadi alarm bagi sekolah untuk lebih peka terhadap kondisi emosional dan sosial siswanya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, yang menekankan perlunya guru memiliki kemampuan konseling untuk mencegah anak didik terpapar radikalisme digital dan kekerasan.

Mu’ti mengingatkan, meski belum tentu terkait terorisme, aksi peledakan di SMA 72 menunjukkan bahaya dari tindakan fatalistik akibat tekanan sosial. Ia menegaskan perlunya sekolah menyediakan ruang ekspresi yang aman bagi siswa agar mereka bisa menyalurkan emosi dan gagasan secara positif, bukan melalui kekerasan.

BACA JUGA:Prabowo Umumkan 10 Pahlawan Nasional, Termasuk Presiden ke-2 RI Soeharto

Ruang ekspresi tersebut penting agar remaja tak merasa terisolasi atau ditekan oleh lingkungan sekolah maupun keluarga. Jika ruang itu tertutup, mereka bisa tumbuh menjadi generasi rapuh dikenal dengan istilah generasi stroberi, yang tampak kuat di luar namun mudah hancur di dalam.

Karena itu, guru dan sekolah memiliki peran krusial untuk membangun ekosistem pendidikan yang ramah anak. Guru perlu memantau bukan hanya korban perundungan, tetapi juga potensi pelaku. Sekolah harus menjadi ruang aman untuk bertumbuh, bukan tempat melahirkan trauma.

Upaya menciptakan sekolah ramah anak harus melibatkan seluruh elemen kepala sekolah, guru, siswa, satpam, petugas kebersihan, hingga penjaga kantin. Semua yang berada di lingkungan sekolah perlu memahami pentingnya menciptakan suasana yang nyaman dan menghargai keberagaman.

Selain itu, komunikasi yang intensif antara sekolah dan orang tua juga sangat penting. Kolaborasi ini menjadi fondasi dalam membangun generasi muda yang tangguh, berjiwa sehat, serta memiliki semangat kebangsaan yang kuat untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: