Rupiah Loyo dan Minyak Dunia Melonjak, Menteri ESDM Pastikan Tak Naikkan Harga BBM Subsidi
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memastikan harga jenis BBM akan tetap stabil.--Ist/jambi-independent.co.id--
JAKARTA, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Di tengah bayang-bayang pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga minyak mentah dunia, pemerintah membawa angin segar bagi masyarakat.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan tidak akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memastikan bahwa harga jenis BBM penugasan dan subsidi seperti Pertalite serta Biosolar akan tetap stabil.
"Tidak akan naik. Insyaallah, ya, doanya, tidak akan kita naikkan," ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
BACA JUGA:Emas Antam Anjlok Rp24.000 Hari Ini, Buyback Ikut Merosot dan Simak Rincian Harga Terbaru!
Alasan di Balik Keputusan Pemerintah
Meski harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 sempat meroket hingga 117,31 dolar AS per barel, pemerintah melihat indikator ini secara akumulatif.
Menurut Bahlil, jika dihitung sejak awal tahun, rata-rata harga minyak mentah kita masih berada di bawah ambang batas yang mengkhawatirkan.
Rata-rata ICP (Januari – Mei 2026): Bertengger di kisaran 80–81 dolar AS per barel.
BACA JUGA:Pengurasan IPA Broni 1 Dilaksanakan Kamis, Distribusi Air di Sejumlah Wilayah Terganggu
Target Pemerintah: Angka kumulatif tersebut dinilai masih aman karena belum menembus angka 100 dolar AS per barel.
Dengan landasan data tersebut, Bahlil optimis tarif BBM subsidi tidak akan mengusik dompet masyarakat hingga penghujung tahun ini. "Insyaallah sampai akhir tahun," tambahnya mantap.
Dipicu Konflik Timur Tengah dan Sentimen China
Di sisi lain, lonjakan tajam ICP pada April—yang melompat sebesar 15,05 dolar AS dibanding posisi Maret sebesar 102,26 dolar AS per barel—bukan tanpa sebab.
BACA JUGA:Penantian 22 Tahun! Arsenal Sah Juara Liga Inggris, setelah Man City Ditahan Bournemouth 1-1
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, membeberkan dua faktor utama yang memanaskan harga minyak dunia:
Ketegangan Geopolitik Global: Konflik yang terus membara di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, meningkatkan kecemasan pasar akan tersumbatnya pasokan minyak global.
Geliat Ekonomi China: Pertumbuhan ekonomi China yang menyentuh angka 5 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal I-2026 memicu peningkatan proyeksi permintaan energi dunia.
Meski tren global masih penuh ketidakpastian, pemerintah memproyeksikan ada faktor penahan yang bisa meredam harga minyak ke depan.
BACA JUGA:Penantian 22 Tahun! Arsenal Sah Juara Liga Inggris, setelah Man City Ditahan Bournemouth 1-1
Salah satunya adalah ekspektasi penurunan permintaan minyak mentah dunia pada triwulan II-2026 sebesar 5 juta barel per hari secara tahunan, serta sinyal positif dari jalur diplomasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. *
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



