Sempat Tak Direstui Ortu hingga Mengajar Suku Anak Dalam, Ini Rai Agistha Erdiana Peraih IPK 3,99 di UNJA
Rai Agistha Erdiana, mahasiswi program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), sukses menyabet predikat lulusan terbaik dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yaitu 3,99, dalam kurun waktu kuliah 3 tahun 10 bulan.--Ist/jambi-independent.co.id--
KOTA JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Kisah menginspirasi datang dari salah satu lulusan wisuda ke-124 Universitas Jambi (UNJA).
Rai Agistha Erdiana, mahasiswi program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), sukses menyabet predikat lulusan terbaik dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yaitu 3,99, dalam kurun waktu kuliah 3 tahun 10 bulan.
Di balik capaian akademis yang memukau tersebut, jalan yang ditempuh alumni asal Singkut, Kabupaten Sarolangun ini tidaklah mulus.
Awalnya, ia berniat mengambil jurusan Geografi lewat jalur SNMPTN dan SBMPTN. Namun, niat itu terbentang restu orang tua yang menginginkannya tetap menimba ilmu tak jauh dari tempat tinggalnya.
BACA JUGA:Kisah Inspiratif Sadia Amjad, Mahasiswa Asal Pakistan yang Raih Wisudawan Terbaik UNJA
Kala itu, ia bahkan sempat dihadapkan pada pilihan sulit antara menuntaskan masa studi atau menuruti keinginan keluarga untuk membina rumah tangga.
Ia akhirnya memutuskan mendaftar ke jurusan PPKn lewat jalur SMMPTN Barat atas arahan keluarga besar yang berharap ia mendalami bidang pendidikan yang bersinggungan dengan ilmu hukum.
Tergerak Lewat Pengalaman Mengajar di Pedalaman
Pandangan Rai terhadap jurusan yang dipilihnya berubah drastis setelah ia mencicipi dunia perkuliahan. Lewat skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), ia terjun langsung dalam KKN Tematik di pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) Skaladi selama satu semester, serta mengikuti program Kampus Mengajar di SDN 148 Kota Jambi.
BACA JUGA:Banyak Dicari! Ternyata Ukuran Bodi Daihatsu Xenia Dinilai Paling Pas untuk Keluarga Indonesia
Melihat antusiasme belajar anak-anak di tengah keterbatasan hutan pedalaman menjadi pemicu utamanya untuk mempercepat masa studi demi meraih predikat cumlaude.
Pengalaman tersebut membakar semangatnya untuk terus memperdalam ilmu agar dapat memperjuangkan hak pendidikan anak-anak marjinal sesuai amanat Pasal 31 UUD 1945.
Rencana Gelar Bimbel Berbayar Hasil Tani
Meskipun sempat merasa cemas melihat rekan seangkatannya lulus lebih dulu, Rai berhasil menuntaskan tugas akhir menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan penilaian yang memuaskan.
BACA JUGA:Prakiraan Cuaca Jambi Hari ini: BMKG Rilis Jam-jam Terpanas Hari Ini!
Hasil manis ini ia dedikasikan penuh untuk keluarga, kerabat, rekan seperjuangan, serta jajaran dosen pembimbing yang tiada henti mengarahkannya selama penyusunan skripsi.
Usai menyelesaikan studinya di kampus berjuluk Pinang Masak tersebut, Rai berencana melangkah ke jenjang Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan program magister.
Tak hanya itu, ia juga menyimpan misi sosial unik di kampung halamannya di Singkut, yaitu mendirikan tempat bimbingan belajar bagi warga lokal yang sistem pembayarannya tidak menggunakan uang tunai, melainkan cukup ditukar dengan hasil kebun atau pertanian warga.
Menutup pengalamannya, ia mengimbau para mahasiswa untuk aktif memanfaatkan berbagai program kemahasiswaan seperti MBKM, PKM, hingga PMW.
BACA JUGA:Tampilan Lebih Segar dan Modern, Begini Bocoran Wujud Mitsubishi Pajero Anyar
Selain memperluas wawasan dan mengasah empati sosial, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut juga dapat dikonversikan ke dalam Satuan Kredit Semester (SKS) yang mendukung capaian nilai akademik. *
Sumber: https://www.unja.ac.id/
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


