Kemarau Panjang, Petani Kota Jambi Tunda Masa Tanam
SAWAH: Lahan persawahan di Kota Jambi. Petani baru bisa mulai menanam ketika musim hujan.-FOTO ANTARA-
JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Musim kemarau yang melanda Kota Jambi, mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Jambi mencatat sejumlah petani, khususnya di lahan sawah tadah hujan, terpaksa menunda masa tanam akibat berkurangnya ketersediaan air.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DPKP Kota Jambi, Amiruddin, mengatakan sebagian besar lahan persawahan di Kota Jambi merupakan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan sebagai sumber utama pengairan.
Saat musim hujan, kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi secara alami. Namun memasuki musim kemarau, petani harus memanfaatkan air dari sungai maupun saluran irigasi yang berada di sekitar lahan untuk mengairi sawah.
"Kondisi sawah di setiap lokasi tidak sama," kata Amiruddin.
BACA JUGA:Bersama BRI, Petani Kopi Asal Batang Sajikan Racikan Produk hingga Jangkau Pasar Dunia
Ia menjelaskan, lahan yang berada di kawasan cekungan masih memiliki genangan air sehingga tetap dapat ditanami.
Sementara itu, sawah yang mulai mengering membuat petani memilih menunda masa tanam hingga ketersediaan air kembali mencukupi.
Meski menghadapi tantangan musim kemarau, DPKP Kota Jambi tetap optimistis target luas tanam padi pada 2026 dapat tercapai.
Amiruddin menyebutkan, luas lahan sawah yang dilindungi (LSD) di Kota Jambi mencapai 459 hektare, sedangkan total luas sawah sekitar 520 hektare.
BACA JUGA:Kabar Gembira Petani! Harga Sawit Jambi Naik Lagi, TBS Tembus Rp3.864 per Kg, Cek Daftar Lengkapnya
Tahun ini, pemerintah menargetkan realisasi luas tanam padi mencapai 538 hektare.
Hingga awal Agustus 2026, realisasi luas tanam telah mencapai 443 hektare atau sekitar 82 persen dari target.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 96 hektare lahan yang diharapkan dapat ditanami dalam waktu dekat.
"Kami tetap optimistis target luas tanam tahun ini dapat tercapai meski menghadapi musim kemarau. Namun, kondisi cuaca saat ini juga mulai memengaruhi komoditas hortikultura," ujarnya.
BACA JUGA:Gerakan Pulihkan Hutan Lanskap Bukit Tigapuluh Meluas Hingga ke Petani Perempuan
Selain tanaman padi, musim kemarau juga mulai memberikan dampak terhadap komoditas hortikultura.
Berdasarkan hasil pemantauan DPKP di lapangan, sekitar 60 persen tanaman hortikultura, terutama sayuran dan buah-buahan, mengalami gangguan akibat berkurangnya pasokan air.
Karena itu, DPKP mengimbau para petani untuk memanfaatkan sumber air yang tersedia secara efisien agar dampak kekeringan terhadap produksi pertanian dapat diminimalkan.
"Kami mengimbau petani memanfaatkan sumber air secara efisien," tutup Amiruddin.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



