Sudah Menyusut Sejak Tiga Bulan Terakhir, Kini Debit Sungai Batanghari di Bawah Batas Normal
Petugas Pemantau dan Pengawas Debit Air serta Tinggi Muka Air Sungai Batanghari di Pos Duga Air Otomatis (AWLR) Tanggo Rajo, Kota Jambi, Syahruddin.-SEPTIN RITA ANDINI/JAMBI INDEPENDENT-
JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Debit air Sungai Batanghari terus mengalami penyusutan seiring puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026.
Kondisi ini menyebabkan munculnya daratan lumpur dan hamparan pasir di sejumlah tepian Sungai. Hal ini juga mulai berdampak pada aktivitas masyarakat.
Petugas Pemantau dan Pengawas Debit Air serta Tinggi Muka Air Sungai Batanghari di Pos Duga Air Otomatis (AWLR) Tanggo Rajo, Kota Jambi, Syahruddin, mengatakan, tinggi muka air Sungai Batanghari saat ini berada pada level 8,37 meter, atau di bawah kondisi normal yang mencapai 9 meter.
"Kalau pagi tadi pukul 07.00, tinggi muka air berada di angka 8,37 meter. Normalnya 9 meter, jadi sekarang memang sudah di bawah normal," katanya saat diwawancarai, Selasa (4/8).
BACA JUGA:Kemarau Panjang, Debit Sungai Batanghari Terancam Terus Menyusut, BPBD Minta Masyarakat Bijak Gunakan Air
Menurut Syahruddin, penyusutan debit air telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Bahkan, setiap sore tinggi muka air terus mengalami penurunan.
"Sudah lebih kurang tiga bulan air terus menyusut. Kemarin sore saja sempat turun sampai 7,97 meter, sedangkan paginya masih di atas 8 meter," ujarnya.
Ia memperkirakan debit air masih berpotensi terus menurun apabila musim kemarau berlanjut.
Meski terjadi hujan di wilayah hulu, kondisi pasang surut air laut juga sangat memengaruhi tinggi muka air Sungai Batanghari.
BACA JUGA:Warga Terima Uang Ganti Kerugian Proyek Drainase Sungai Asam Tahap II Kota Jambi
"Kalau musim kemarau masih berlangsung, air bisa turun lagi. Walaupun di hulu hujan, kalau air laut tidak pasang, tinggi muka air tetap akan turun," jelasnya.
Selain berdampak terhadap kondisi sungai, penyusutan debit air juga meningkatkan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), terutama di kawasan lahan gambut.
"Daerah yang rawan sekarang tentu rawan kebakaran. Apalagi di wilayah Muarojambi yang banyak memiliki lahan gambut. Kalau semakin kering, lahan akan semakin mudah terbakar," katanya.
Syahruddin juga menyoroti kualitas air Sungai Batanghari yang hingga kini masih keruh.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh menurunnya debit air, tetapi juga masih adanya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sepanjang aliran sungai.
"Air sudah lama keruh dan belum bisa bersih. Selama masih ada penambangan liar, air akan tetap keruh," tegasnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, penyusutan debit Sungai Batanghari menyebabkan sejumlah titik di tepian sungai dipenuhi daratan lumpur dan hamparan pasir yang sebelumnya tertutup air.
Kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas masyarakat yang memanfaatkan Sungai Batanghari sebagai jalur transportasi maupun sebagai sumber mata pencaharian.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



