Karhutla Jambi Capai 222 Hektare, Satgas Siagakan Pesawat Cessna untuk OMC
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah.-SEPTIN RITA ANDINI/JAMBI INDEPENDENT-
JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Memasuki akhir Juli 2026, Provinsi JAMBI mulai memasuki puncak musim kemarau. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di sejumlah kabupaten, dengan total luas lahan terbakar hingga kini mencapai sekitar 222 hektare.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi JAMBI, Bachyuni Deliansyah, mengatakan musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir September bahkan dapat berlanjut sampai Oktober 2026.
“Memang di akhir Juli ini kita memasuki fase puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir September bahkan bisa sampai Oktober. Sampai hari ini luas kebakaran sekitar 222 hektare,” kata Bachyuni saat diwawancarai, Selasa (28/7).
Ia menjelaskan, kebakaran tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Kumpeh dan Rantau Panjang di Kabupaten Muaro JAMBI, Kecamatan Betara di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kecamatan Geragai di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, serta beberapa titik di Kabupaten Batanghari.
BACA JUGA:OMC Dimulai, 1 Ton Garam per Hari Disemai pada Awan Potensial
Meski demikian, menurut Bachyuni, seluruh kejadian kebakaran masih dapat dikendalikan dengan cepat berkat kesiapsiagaan petugas di lapangan.
Sesuai arahan Gubernur Jambi, saat ini telah dibentuk 81 pos siaga yang tersebar di daerah-daerah rawan karhutla.
Pos tersebut menjadi garda terdepan dalam melakukan patroli, deteksi dini, sosialisasi kepada masyarakat, hingga pemadaman awal.
“Kalau pemadaman lewat darat terkendala karena lokasi jauh atau tidak ada sumber air, maka langsung dikoordinasikan dengan tim udara untuk membantu pemadaman,” ujarnya.
BACA JUGA:Siapa Pemilik Lahan yang Terbakar? Satreskrim Polres Muaro Jambi dan Polda Jambi Selidiki Karhutla di Jaluko
Selain mengoptimalkan patroli darat, BPBD juga terus memantau titik panas (hotspot) yang terdeteksi setiap hari.
Hingga saat ini, jumlah hotspot di Provinsi Jambi tercatat hampir mencapai 2.000 titik.
Namun, Bachyuni menegaskan bahwa hotspot tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran karena dapat dipicu oleh pantulan panas dari benda tertentu.
Oleh sebab itu, setiap titik panas tetap diverifikasi melalui patroli lapangan.
BACA JUGA: 11,5 Hektare Lahan Terbakar, BPBD Catat 12 Kasus Karhutla di Muaro Jambi
“Kalau hari ini misalnya ada sekitar 30 hotspot, semuanya kita patroli untuk memastikan apakah benar ada api atau hanya pantulan panas,” jelasnya.
Dalam sepekan terakhir, kebakaran tercatat terjadi di Kabupaten Tanjab Barat, Tanjab Timur, Muarojambi, Batanghari, Tebo, hingga Merangin.
Di Kabupaten Merangin, api berhasil dipadamkan saat masih berskala kecil sehingga tidak sempat meluas.
Untuk wilayah bergambut, kebakaran paling banyak ditemukan di Kecamatan Rantau Panjang dan Desa Air Merah, Kabupaten Muarojambi, serta beberapa lokasi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
BACA JUGA:Sayembara Polres Sarolangun! Warga yang Lapor Pelaku Karhutla Dapat Imbalan
Sementara itu, kebakaran di Kecamatan Betara terjadi di kawasan perbukitan dan bukan lahan gambut.
Sebagai langkah antisipasi, Satgas Karhutla Provinsi Jambi juga menyiagakan satu pesawat jenis Cessna PK-ALA yang ditempatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Pesawat tersebut disiapkan untuk mendukung patroli udara sekaligus Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) apabila kondisi atmosfer memungkinkan dilakukan penyemaian garam.
“Saat ini BNPB telah menempatkan satu pesawat Cessna di Jambi yang dapat digunakan untuk patroli udara maupun penyemaian garam jika terdapat bibit awan,” kata Bachyuni.
BACA JUGA: Waspada Tanjabtim Masuk Wilayah Rawan Karhutla, BPBD Imbau Masyarakat Waspadai Puncak Kemarau
BPBD Provinsi Jambi juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Karena kondisi cuaca yang sangat kering meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.
“Kami minta masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan. Jangan membuka lahan dengan membakar dan jangan membuang puntung rokok sembarangan karena sekarang kondisi sangat kering dan rawan kebakaran,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



