b9

Hardiknas! Masih Ada Bangunan Sekolah Berdinding Kayu Rapuh di Muaro Jambi, Kekurangan Tenaga

Hardiknas! Masih Ada Bangunan Sekolah Berdinding Kayu Rapuh di Muaro Jambi, Kekurangan Tenaga

Harminah, salah satu guru yang telah mengabdi selama 13 tahun.-Foto : Junaidi-Jambi-independent.co.id

MUARO JAMBI,JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID — Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 semestinya menjadi titik refleksi bagi pemerintah dalam melihat kembali kondisi pendidikan, terutama di daerah.

Di Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan, Kabupaten Muaro Jambi, potret itu tampak nyata—sekaligus memprihatinkan.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 232 Tanjung Lebar hingga kini masih bergulat dengan persoalan mendasar.

Mulai dari kekurangan tenaga pengajar hingga minimnya infrastruktur. Kondisi tersebut bukan sekadar data di atas kertas, melainkan realitas yang dihadapi setiap hari oleh siswa dan guru.

BACA JUGA:Wabup Katamso Pimpin Upacara Hardiknas 2026, Tegaskan Komitmen Pendidikan Bermutu untuk Semua

Bangunan sekolah yang sebagian besar masih berdinding kayu terlihat rapuh. Atap seng yang bocor membuat ruang kelas kerap tergenang air saat hujan turun, mengganggu proses belajar mengajar.

Keterbatasan ruang juga memaksa siswa SD berbagi fasilitas dengan siswa sekolah menengah pertama (SMP). Kegiatan belajar pun harus dilakukan secara bergantian. Pagi hari digunakan oleh siswa SD, sementara siang hingga sore hari dimanfaatkan oleh siswa SMP.

“Bangunan tidak memadai, gurunya juga masih kurang. Jadi kami terpaksa mengajar bergantian,” ujar Harminah, guru yang telah mengabdi selama 13 tahun di tingkat SD dan dua tahun di SMP.

Kekurangan tenaga pengajar menjadi persoalan krusial lainnya. Saat ini, hanya terdapat lima guru untuk jenjang SD dan dua guru untuk SMP. Jumlah tersebut harus melayani 103 siswa SD dan 23 siswa SMP, sehingga beban kerja guru menjadi berlipat.

BACA JUGA:Dosen UIN STS Jambi Digerebek! Korem 042/Gapu Ungkap Fakta Isu Keterlibatan TNI

Dalam kondisi terbatas, penggabungan kelas menjadi langkah darurat yang tak terhindarkan. Siswa kelas I dan II harus belajar dalam satu ruangan yang sama. Bahkan, guru juga harus merangkap mengajar di dua jenjang sekaligus dengan status sebagai tenaga honorer.

Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, semangat belajar siswa dan dedikasi para guru tetap terjaga. Kegiatan belajar mengajar terus berlangsung, meski jauh dari kondisi ideal.

Para guru berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi sekolah tersebut, agar siswa dapat memperoleh hak pendidikan yang layak.

“Kami mohon ada perhatian dari pemerintah, agar anak-anak bisa belajar di tempat yang lebih layak,” kata Harminah. *

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait