b9

Jalan Tol Jambi–Palembang Operasi, Rp3 Triliun Setahun Uang Warga Berpotensi Mengalir ke Sumsel

Jalan Tol Jambi–Palembang Operasi, Rp3 Triliun Setahun Uang Warga Berpotensi Mengalir ke Sumsel

Noviardi Ferzi-dok/jambi-independent.co.id-

JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Proyeksi kebocoran ekonomi akibat operasional penuh Jalan Tol Jambi–Palembang pada 2026 semakin relevan jika belajar dari sejumlah kasus serupa di Indonesia. 

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai konektivitas jalan tol memangkas waktu tempuh dan biaya logistik, namun dalam praktiknya juga kerap mempercepat migrasi konsumsi ke kota yang memiliki daya saing ekonomi lebih kuat.

Menurut Noviardi, pola yang berpotensi terjadi antara Jambi dan Palembang bukan fenomena baru. Ia mencontohkan operasional Tol Kayu Agung–Palembang yang beroperasi bertahap pada 2021–2023. 

Setelah memangkas waktu tempuh Palembang–Lampung dari sekitar 8 jam menjadi 4 jam, arus konsumsi warga Lampung ke Palembang tercatat meningkat 25–30 persen.

BACA JUGA:Jambi Berduka! Mantan Danrem 042/Gapu Kolonel (Purn) Sutrisno Meninggal Dunia, Dimakamkan Secara Militer  

Dampaknya, estimasi uang keluar akibat migrasi belanja ritel modern dan layanan kesehatan mencapai Rp1,2–1,5 triliun per tahun.

“Menariknya, PDRB Lampung tetap tumbuh sekitar 5,1 persen karena logistik lebih murah dan distribusi barang lebih efisien. Artinya, tol itu netral. Ia membantu pertumbuhan, tetapi juga membuka kran konsumsi ke luar jika struktur ekonomi tidak kompetitif,” jelas Noviardi.

Contoh lain terjadi pada Tol Solo–Ngawi yang beroperasi sejak 2018. Pemangkasan waktu tempuh memicu lonjakan perjalanan warga Solo ke Surabaya untuk pendidikan tinggi, hiburan, dan belanja modern. 

Estimasi outflow konsumsi mencapai sekitar Rp800 miliar per tahun dengan multiplier effect 1,8 kali lipat di kota tujuan.

BACA JUGA:Edisi Terbatas! Mercedes-Benz Luncurkan GLC200 Avantgarde Edition, SUV Mewah Lebih Terjangkau

Namun Solo mampu meredam tekanan tersebut melalui penguatan industri makanan olahan dan sektor kreatif sehingga sebagian uang tetap berputar di dalam daerah.

Dari 2 kasus tersebut, Noviardi melihat pola yang hampir identik dengan proyeksi Jambi–Sumsel. Dengan potensi kunjungan 20–25 ribu orang per bulan setelah tol beroperasi penuh, serta belanja rata-rata Rp1,5–2 juta per orang, arus uang keluar dari sisi konsumsi bisa mencapai Rp30–50 miliar per bulan. 

Ditambah komponen tol penumpang dan logistik, total aliran dana langsung diperkirakan Rp120–150 miliar per bulan. Dengan multiplier effect 1,5–2 kali, pergeseran ekonomi riil dapat mendekati Rp240–300 miliar per bulan atau hampir Rp3 triliun per tahun.

Ia menegaskan, daya tarik Palembang sebagai kota dengan PDRB sekitar Rp194,57 triliun dan dominasi sektor jasa, perdagangan, kesehatan, pendidikan, serta pariwisata membuat migrasi konsumsi berlangsung rasional. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait