Sering Scroll TikTok Berjam-jam? Brain Rot Makin Marak di Kalangan Anak Muda, Ini Gejalanya
Fenomena "brain rot" atau kelelahan mental akibat paparan konten digital dangkal diduga jadi pemicu-ilustrasi/jambi-independent-
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID – Sebuah studi dari Universitas Yale pada 2025 menemukan fakta mengkhawatirkan: semakin banyak orang dewasa muda berusia 18 hingga 34 tahun yang mengalami disabilitas kognitif, termasuk masalah memori dan sulit fokus. Angkanya hampir melonjak dua kali lipat, dari 5,1% menjadi 9,7% hanya dalam satu dekade.
Para peneliti mengaitkan fenomena ini dengan "brain rot" atau kerusakan otak: suatu kondisi kelelahan mental akibat paparan konten digital yang sangat cepat namun dangkal.
Fenomena ini kini makin terasa di kalangan generasi muda yang menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial seperti TikTok, Instagram, atau YouTube Shorts.
BACA JUGA:Sering Dikira GERD, 8 Gejala Ini Bisa Jadi Tanda Awal Kanker Ovarium
Apa Itu Brain Rot dan Mengapa Perlu Diwaspadai?
Psikolog Dr. Julia Kogan memaparkan, tanda utama brain rot adalah ketika kebiasaan online seseorang sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Jika Anda tidak bisa tidur karena terpaku pada ponsel, atau mengabaikan hubungan di dunia nyata demi konten TikTok, Anda mungkin mengalami brain rot," ujar Kogan dikutip dari Verywell Mind.
Tanda-tanda lainnya meliputi:
- Kesulitan melepaskan diri dari ponsel
- Dorongan konstan untuk memeriksa notifikasi
- Mata tegang, sakit kepala, atau postur tubuh buruk akibat penggunaan gadget berlebihan
- Gangguan tidur karena terpapar layar sebelum istirahat
Kondisi ini bukan sekadar "kecanduan gadget", melainkan dampak nyata terhadap fungsi kognitif otak ketika terus-menerus terpapar stimulasi cepat tanpa jeda reflektif.
BACA JUGA:Solar Non-Subsidi Jadi Sorotan: Dexlite & Pertamina Dex Tembus Rp26 Ribuan, Ini Daftar Lengkapnya
Gejala Brain Rot pada Anak dan Remaja
Fenomena brain rot juga menjadi sorotan Dr. Melly Latifah, dosen IPB University dari Divisi Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Ia menjelaskan bahwa dampaknya bisa berbeda tergantung usia.
"Anak bisa sulit konsentrasi, sering lupa instruksi sederhana, bicaranya patah-patah, atau kosakatanya menyusut. Secara emosional, mereka bisa tertawa histeris saat online tetapi datar ketika diajak bicara. Ada juga yang marah ketika gadget diambil," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



