Hindari Minuman Ini! Agar Jemaah Haji 2026 Terhindar dari Dehidrasi di Tengah Panas Ekstrem di Tanah Suci
Foto ilsutrasi minuman berbagai varian rasa dan manis. Sementara jemaah hajid dianjurkan agar menjaga kesehatan dan menghindari minuman tinggi gula. . --freepik--
JAMBI, JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Cuaca panas ekstrem di Arab Saudi menjadi tantangan serius bagi jemaah haji setiap tahunnya. Suhu yang bisa menembus lebih dari 40 derajat Celsius di kota suci seperti Makkah dan Madinah membuat risiko dehidrasi meningkat drastis.
Selain memperbanyak minum air putih, jemaah juga disarankan membatasi konsumsi minuman berkafein seperti kopi dan teh.
Minuman ini dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil, sehingga mempercepat kehilangan cairan tubuh.
Jemaah diingatkan pentingnya menjaga pola konsumsi selama ibadah haji.
Jemaah harus menghindari minuman tinggi gula karena dapat mengganggu metabolisme tubuh.
BACA JUGA:Dramatis! Pelaku Curat di Bungo Ditangkap Warga, Polisi Temukan Senpi Rakitan dan Peluru
Makanan manis seperti donat, roti cokelat, dan biskuit berkrim juga sebaiknya dikurangi, terutama menjelang keberangkatan.
Sebagai gantinya, jemaah dianjurkan mulai membiasakan konsumsi makanan alami atau real food yang minim proses pengolahan.
Pola makan sehat ini membantu tubuh lebih siap menghadapi tekanan fisik selama ibadah haji. Karena itu, menjaga tubuh tetap terhidrasi bukan sekadar anjuran, tetapi menjadi kebutuhan utama agar ibadah berjalan lancar. Kebutuhan cairan tubuh harus dipenuhi secara konsisten.
Orang dewasa membutuhkan sekitar 30–35 ml cairan per kilogram berat badan setiap hari. Artinya, seseorang dengan berat 60 kilogram setidaknya memerlukan 1,8 hingga 2,1 liter cairan per hari, baik dari minuman maupun makanan.
BACA JUGA:BREAKING NEWS: Kebakaran Hebohkan Arab Melayu Jambi
Yang sering disalahpahami, rasa haus ternyata bukan tanda awal tubuh kekurangan cairan. Justru, haus merupakan sinyal bahwa tubuh sudah mulai mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, jemaah diimbau untuk minum secara teratur tanpa menunggu haus.
Salah satu cara sederhana untuk memantau kondisi hidrasi adalah dengan memperhatikan warna urine. Jika berwarna jernih atau kuning muda, tubuh masih dalam kondisi baik.
Namun jika berubah menjadi kuning pekat, itu pertanda tubuh mulai kekurangan cairan dan perlu segera diatasi.
Menjaga hidrasi bukan hanya soal minum air, tetapi juga bagian dari strategi menjaga stamina. Dengan asupan cairan yang cukup dan pola makan seimbang, jemaah dapat mengurangi risiko kelelahan, pusing, hingga gangguan kesehatan serius.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


