Batuk, Sesak, Demam: 7 Gejala Evali yang Perlu Diketahui Pengguna Rokok Elektrik
Selasa 14-04-2026,14:08 WIB
Reporter:
Akmal|
Editor:
Akmal
Gejala pengguna vape infeksi paru akibat vape dengan gejala batuk, sesak, demam-ilustrasi/jambi-independent-FKHUI
JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID - Selama ini, rokok elektrik atau vape sering diklaim lebih aman daripada rokok bakar.
Namun, konsumen vape tidak sepenuhnya bebas dari risiko penyakit berbahaya. Salah satunya: Evali (E-cigarette or Vaping-Product-Use Associated Lung Injury), infeksi paru-paru serius yang terkait langsung dengan penggunaan vape.
Penyakit ini pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2019, menyusul merebaknya kasus infeksi paru fatal di beberapa wilayah AS.
Para peneliti menemukan pola serupa: pasien mengalami gejala serius setelah mengonsumsi rokok elektrik dalam periode tertentu.
APA ITU EVALI DAN BAGAIMANA CARA MENDIAGNOSISNYA?
Evali adalah penyakit paru-paru yang diakibatkan oleh konsumsi rokok elektrik. Penyakit ini bisa dikenali dari sejumlah gejala yang dialami pengguna vape — dengan satu kriteria penting: gejala muncul setelah mengonsumsi vape setidaknya selama 90 hari.
Gejala umum Evali, sebagaimana dilansir CDC, meliputi:
- Nafas pendek-pendek atau sesak
- Batuk-batuk persisten, kering atau berdahak
- Sakit dada, nyeri atau rasa tertekan
- Demam dan gejala seperti flu
- Diare, mual, dan muntah-muntah
- Jantung berdebar-debar
- Nafas dangkal dan cepat
BACA JUGA:Dari Pneumonia hingga Narkoba dalam Cairan Vape: Dua Alasan Mendesak Regulasi Diperketat
Penting dicatat: diagnosis Evali baru dapat ditegakkan jika gejala-gejala di atas disertai riwayat penggunaan vape minimal 90 hari sebelum gejala muncul.
Hal ini karena gejala Evali sering menyerupai gangguan pernapasan lain seperti pneumonia atau infeksi virus flu — sehingga memerlukan pemeriksaan medis mendalam.
APA PENYEBAB EVALI?
Hingga kini, para peneliti belum menyimpulkan penyebab tunggal Evali. Namun, Yale Medicine menyebut dua zat yang diduga kuat berperan:
- Vitamin E Asetat: Sering digunakan sebagai pengental dalam cairan vape, terutama yang mengandung THC. Zat ini bersifat lengket dan dapat mengendap di paru-paru, memicu peradangan.
- Tetrahidrokanabinol (THC): Kandungan psikoaktif dalam ganja yang kadang dicampur dalam cairan vape ilegal.
BACA JUGA:Mercedes-Benz EQS 2026 Klaim Jangkauan 925 km: Sedan Listrik Paling Jauh di Kelasnya?
Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P.(K), Ketua Departemen Pulmonologi FKUI, menjelaskan bahwa sifat iritatif dan oksidatif dari uap vape juga berkontribusi.
"Uap yang dihasilkan oleh rokok elektrik mengandung partikel halus seperti halnya asap yang dibakar oleh rokok konvensional yang dikenal sebagai particulate matter (PM).
Partikel halus itu bersifat toksik merusak jaringan atau bersifat iritatif," ujar Agus sebagaimana dilansir Antara.
RISIKO GANDA: VAPE + ROKOK BAKAR
Bahaya vape tidak berhenti pada Evali. Berdasarkan riset yang dipublikasikan American Journal of Preventive Medicine (2019):
- Penggunaan vape saja dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 30 persen dibandingkan non-pengguna.
- Jika seseorang mengonsumsi vape dan rokok bakar secara bersamaan, risikonya melonjak lebih tinggi lagi.
Kondisi akut yang mengintai meliputi: bronkitis kronis, emfisema, asma yang memburuk, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), hingga stroke.
MENGAPA VAPE TETAP POPULER DI INDONESIA?
Di Indonesia, vape mulai marak dikonsumsi sejak 2015. Beberapa faktor yang mendorong popularitasnya:
- Aroma asap yang tidak menyengat seperti rokok konvensional
- Harga relatif lebih terjangkau
- Klaim "risiko kesehatan lebih rendah" yang beredar luas
- Promosi agresif yang menyasar anak muda sebagai gaya hidup
Namun, popularitas ini tidak serta-merta membuat vape bebas risiko. Seperti ditegaskan CDC dan para ahli paru, tidak ada produk tembakau atau nikotin yang benar-benar aman termasuk vape.
LANGKAH PREVENTIF
Mengingat kompleksitas risiko, upaya pencegahan Evali dan penyakit terkait vape perlu dilakukan secara menyeluruh:
- Edukasi berbasis bukti: Sosialisasi fakta medis tentang vape, bukan sekadar klaim pemasaran
- Regulasi yang jelas: Pengawasan distribusi, kandungan cairan, dan promosi yang menyasar remaja
- Komunikasi keluarga: Orang tua diajak berdiskusi terbuka dengan anak tentang risiko kesehatan
- Layanan kesehatan responsif: Tenaga medis dilatih untuk mengenali gejala Evali dan memberikan penanganan tepat
Bagi Anda atau orang terdekat yang mengonsumsi vape dan mengalami gejala seperti di atas, segera konsultasikan ke dokter terutama jika gejala tidak membaik dalam beberapa hari. Deteksi dini dapat mencegah komplikasi yang lebih serius.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: