Momentum Ramadhan, Saatnya Ucapkan Selamat Tinggal pada Rokok: Ini Kata Pakar Paru
Bulan suci Ramadhan dinilai menjadi momentum terbaik untuk berhenti merokok-ilustrasi/jambi-independent.co.id-akmal
JAMBI-INDEPENDEN.CO.ID - Bulan suci Ramadhan dinilai menjadi momen yang tepat bagi para perokok untuk menghentikan kebiasaan merokok secara total.
Hal ini disampaikan Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama.
Dalam keterangan tertulis yang dikonfirmasi pada Selasa, Prof. Tjandra menyarankan agar masyarakat memanfaatkan momentum puasa untuk berhenti merokok sepenuhnya.
“Para perokok yang berpuasa akan berhenti merokok sejak sahur sampai berbuka puasa. Masyarakat luas agar memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan tahun ini untuk berhenti merokok sepenuhnya,” ujarnya.
BACA JUGA:Batasi Sekarang! Minuman Manis Bisa Picu Penyakit Jantung dan Diabetes Hingga Ginjal
Ribuan Zat Berbahaya dalam Asap Rokok
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu menjelaskan bahwa asap rokok mengandung ribuan jenis senyawa kimia.
Ratusan di antaranya merupakan zat beracun yang berhubungan dengan puluhan penyakit, mulai dari gangguan kepala hingga kaki.
Tak hanya berdampak pada perokok aktif, asap rokok juga menimbulkan gangguan bagi orang lain. Karena itu, selama menjalankan ibadah puasa, setiap individu seharusnya tidak menimbulkan gangguan terhadap sesama.
BACA JUGA:Berapa Banyak Air yang Ideal untuk Ginjal? Jangan Sampai Kelebihan!
Puasa Bukti Bisa Aktif Tanpa Rokok
Menurut Prof. Tjandra, anggapan bahwa seseorang tidak bisa beraktivitas tanpa merokok adalah keliru.
Faktanya, selama bulan puasa para perokok mampu tetap bekerja dan beraktivitas dari pagi hingga sore hari tanpa rokok.
“Artinya, memang tidak benar pendapat bahwa harus merokok dulu baru bisa bekerja. Pengalaman nyata di bulan puasa ini membuktikan sebaliknya,” tutur Adjunct Professor Griffith University tersebut.
Ia menilai kebiasaan tidak merokok sejak sahur hingga berbuka seharusnya dapat dilanjutkan hingga waktu sahur berikutnya, bahkan diteruskan setelah Ramadhan berakhir.
BACA JUGA:SBY, Jokowi hingga JK Hadiri Undangan Prabowo di Istana, Ada Agenda Apa?
Jangan Berbuka dengan Rokok
Prof. Tjandra juga mengingatkan agar tidak menjadikan rokok sebagai menu berbuka puasa. Kebiasaan tersebut dinilai tidak baik dan berpotensi memperparah kondisi tubuh yang relatif lemah setelah seharian menahan lapar dan haus.
Waktu berbuka sebaiknya diisi dengan konsumsi makanan dan minuman bergizi untuk memulihkan energi, bukan langsung merokok.
Ia menegaskan bahwa ketagihan rokok sebenarnya bisa dikendalikan, terbukti dengan kemampuan perokok menahan diri selama berpuasa.
BACA JUGA:Menaker Terbitkan SE THR 2026, Ini Aturan Lengkap dan Batas Waktu Pembayarannya
“Berhenti merokok di bulan Ramadhan akan memberi manfaat bagi kesehatan dan kehidupan serta lingkungan,” ujarnya.
Dengan niat yang kuat dan komitmen menjaga kesehatan, Ramadhan dapat menjadi titik awal perubahan gaya hidup yang lebih sehat dan bebas asap rokok.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



