b9

Pengamat: Kenaikan Harga Plastik Bisa Memicu Gelombang Baru Inflasi

Pengamat: Kenaikan Harga Plastik Bisa Memicu Gelombang Baru Inflasi

Noviardi Ferzi-dok/jambi-independent.co.id-

JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID -  Lonjakan harga plastik nasional sejak akhir Maret 2026 mulai menimbulkan efek berantai terhadap harga barang kebutuhan sehari-hari.

Kenaikan bahan baku plastik yang dipicu lonjakan harga minyak mentah global akibat konflik di Timur Tengah membuat biaya kemasan melonjak tajam, mulai dari kantong kresek, standing pouch, botol, hingga wadah makanan sekali pakai.

Kondisi tersebut dinilai dapat memicu gelombang baru inflasi pasca-Lebaran karena hampir seluruh sektor usaha bergantung pada plastik sebagai bahan baku.

Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi, menilai lonjakan harga plastik hingga 50 persen sejak akhir Maret 2026 menjadi ancaman serius bagi inflasi pangan dan daya beli masyarakat, terutama pasca-Lebaran.

BACA JUGA:Pertarungan Sengit Liga 4 Jambi 2026: Siapa Bertahan, Siapa Tersingkir?

Menurutnya, kenaikan harga plastik bukan sekadar persoalan bahan kemasan, tetapi telah menjalar ke hampir seluruh rantai ekonomi, mulai dari UMKM, pedagang pasar, industri makanan-minuman, jasa laundry, hingga distribusi hasil pertanian.

“Kalau harga plastik naik 30 sampai 50 persen, dampaknya tidak berhenti di pedagang plastik saja. Semua barang yang menggunakan kemasan akan ikut naik," kata dia.

"Makanan, minuman, kantong sampah, botol air mineral, standing pouch, gelas plastik, sampai wadah makanan siap saji akan terdorong naik,” ujar Noviardi.

Ia menjelaskan, plastik menjadi komponen penting dalam biaya produksi dan distribusi. Ketika harga bahan baku seperti polipropilena melonjak, pelaku usaha kecil tidak punya banyak pilihan selain menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran produk.

BACA JUGA:Meresahkan! Dua Pengedar Sabu Kelurahan Manggis Dicocok Polres Bungo

“UMKM paling tertekan karena margin mereka tipis. Banyak yang tidak bisa langsung menaikkan harga karena takut kehilangan pembeli. Akibatnya mereka mengurangi isi, memperkecil ukuran kemasan, atau menunda produksi,” katanya.

Noviardi menilai situasi ini lebih berbahaya dibanding kenaikan harga BBM biasa, karena dampaknya menyebar ke banyak sektor sekaligus.

Menurut dia, biaya kemasan yang naik 30-50 persen bisa mendorong kenaikan harga barang konsumsi harian sebesar 5-15 persen dalam waktu singkat.

Ia juga menyoroti pedagang pasar yang mulai membatasi stok plastik untuk menghindari kerugian, sehingga pasokan menjadi terganggu. Di sisi lain, sektor distribusi pangan juga terkena tekanan karena biaya energi dan kemasan naik bersamaan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: